Ringkasan

Sulfur dan belerang adalah dua nama untuk unsur yang sama, berlambang S dengan nomor atom 16. Belerang adalah kata baku bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Inggris memakai ejaan sulfur atau sulphur. Sulfur komersial diperdagangkan sebagai bongkahan, butiran yang dibentuk dari sulfur cair, bubuk, atau cairan panas. Sebagian besar sulfur dipulihkan dari pengolahan minyak dan gas, lalu diolah menjadi asam sulfat.

Apakah sulfur dan belerang itu sama?

Ya. Sulfur dan belerang menamai unsur yang sama. KBBI mencatat belerang sebagai kata baku bahasa Indonesia dengan arti sulfur, dan lema sulfur di KBBI memberi belerang sebagai padanannya.

KBBI menggolongkan sulfur ke bidang kimia. Unsur ini berlambang S dan bernomor atom 16. KBBI menggambarkannya sebagai massa getas berwarna kuning yang juga dapat berbentuk lain, misalnya kristal bening.

Belerang dan sulfur bukan dua produk yang berbeda. Dalam penawaran, satu barang dibedakan dari barang lain oleh bentuk fisik, kemurnian, dan spesifikasinya, bukan oleh kata yang dipakai. Artikel ini memakai kedua kata secara bergantian.

Mengapa ada ejaan sulfur dan sulphur?

Perbedaannya hanya soal ejaan bahasa Inggris. Sulfur adalah ejaan yang dipakai IUPAC, lembaga tata nama kimia internasional, sedangkan sulphur adalah ejaan tradisional bahasa Inggris British.

Rekomendasi tata nama kimia anorganik IUPAC tahun 2005 mencantumkan sulfur sebagai nama bahasa Inggris untuk unsur S, tanpa catatan ejaan alternatif. Editorial Nature Chemistry edisi Agustus 2009 mencatat bahwa sumber berbeda soal tahun penetapan ejaan ini oleh IUPAC, yaitu 1971 atau 1990. Editorial itu juga menyebut kata ini berasal dari bahasa Latin, bukan dari bahasa Yunani.

Menurut Oxford Learner’s Dictionaries, Royal Society of Chemistry (RSC) di Inggris juga sudah memakai sulfur. Meski begitu, sulphur masih lazim dalam bahasa Inggris British, Irlandia, Afrika Selatan, dan India. Bahasa Inggris Kanada, Australia, dan Selandia Baru memakai keduanya. Cambridge Dictionary mencatat sulphur sebagai ejaan UK.

Dalam praktik, kedua ejaan muncul di sumber resmi. USGS dan tabel periodik RSC menulis sulfur. Kode IMDG untuk barang berbahaya di laut memakai SULPHUR sebagai nama pengapalan resmi UN 1350, dengan sulfur sebagai sinonim. Jadwal muatan curah IMSBC dan asosiasi industri The Sulphur Institute juga memakai sulphur. Karena itu, dokumen pengapalan dan dagang sering menulis sulphur, sedangkan literatur kimia menulis sulfur.

Dalam bentuk apa sulfur diperdagangkan?

Sulfur diperdagangkan sebagai padatan atau sebagai cairan panas. Padatannya bisa berupa bongkahan, butiran yang dibentuk dari sulfur cair, atau bubuk halus.

Aturan pelayaran internasional untuk muatan curah padat, IMSBC Code, memisahkan dua kelompok padatan. Kelompok pertama adalah sulfur yang dibentuk dari keadaan cair menjadi prill, granul, pelet, pastille, atau serpih. Ringkasan IMSBC dari otoritas maritim Kepulauan Faroe (2013) menyebut sulfur jenis ini sebagai ko-produk pengolahan gas asam atau kilang minyak yang berwarna kuning cerah dan tidak berbau. Kelompok kedua adalah sulfur bongkahan, hancuran, atau berbutir kasar, yang memakai jadwal tersendiri.

Karena itu, nakhoda perlu mengetahui bentuk sulfur yang dimuat (UK P&I Club, 2023), dan status angkut tiap muatan mengikuti dokumen kargonya.

Bentuk dagang sulfur dan catatan umumnya
BentukWujudCatatan umum
Bongkahan (lump), hancuran, berbutir kasarPadatan yang tidak dibentuk menjadi butiran tertentuJadwal IMSBC tersendiri (SULPHUR, UN 1350). Dilelehkan atau digiling sebelum dipakai, tergantung prosesnya.
Prill, granul, peletButiran yang dibentuk dari sulfur cairJadwal IMSBC SULPHUR (formed, solid). Menurut UK P&I Club (2023), bentuk inilah yang paling sering dikapalkan curah.
Pastille, serpih (flakes)Keping atau serpih yang dibentuk dari sulfur cairSatu jadwal IMSBC dengan prill dan granul.
Bubuk halusButiran sangat halusKode IMDG: UN 1350, Kelas 4.1. Debunya dapat membentuk campuran eksplosif dengan udara.
Cair (molten)Cairan berwarna amberUN 2448. Diangkut dalam keadaan panas, suhunya dapat mencapai 160 °C.

Apa beda penanganan sulfur padat, bubuk dan cair?

Sulfur padat dilelehkan atau digiling sebelum dipakai, tergantung prosesnya. Bubuk memerlukan pengendalian debu, sedangkan sulfur cair harus dijaga tetap panas.

Sulfur meleleh pada kisaran 113–119 °C, tergantung bentuk kristalnya. Menurut dokumen AP-42 dari US EPA, pabrik asam sulfat yang membakar sulfur melelehkan sulfur padat, menyaringnya untuk membuang abu, lalu menyemprotkannya bertekanan ke ruang bakar. Untuk vulkanisasi karet, sulfur bongkahan digiling menjadi serbuk sebelum dipakai.

Debu perlu dikendalikan pada sulfur padat. UK P&I Club (2023) mencatat sulfur curah biasanya disimpan di tempat terbuka dan mengandung sebagian debu, sehingga banyak otoritas mewajibkan semprotan air saat penanganan. Pada bubuk halus, debu dapat membentuk campuran eksplosif dengan udara yang bisa tersulut listrik statis. Lembar fakta Departemen Kesehatan New Jersey menganjurkan penyedot atau metode basah saat membersihkan sulfur, bukan sapu kering.

Kelembapan dan listrik statis juga berpengaruh. Sulfur kering tidak bereaksi dengan baja telanjang, tetapi sulfur basah dapat sangat korosif. Aliran atau agitasi dapat membangkitkan muatan elektrostatis, dan kebakaran dapat terjadi saat sulfur kering dimuat akibat listrik statis yang menumpuk di pipa pemuatan (UK P&I Club, 2023).

Sulfur cair memerlukan tangki berpemanas dan pengendalian gas. Di ruang uap tangki, sulfur cair dapat membentuk gas H₂S, SO₂, dan SO₃. Untuk prosedur penyimpanan dan K3, gunakan SDS dari produsen atau pengirim barang.

Dari mana sulfur komersial berasal?

Sebagian besar sulfur komersial saat ini dipulihkan dari pengolahan minyak bumi dan gas alam. Hanya sebagian kecil yang masih ditambang.

Menurut EPA AP-42, pemulihan sulfur adalah konversi hidrogen sulfida (H₂S) menjadi sulfur elemental. H₂S muncul sebagai produk samping pengolahan gas alam dan pengilangan minyak mentah bersulfur tinggi. Proses Claus menghasilkan sekitar 90–95% sulfur pulihan.

Dalam proses Claus, sepertiga H₂S dibakar dengan udara menjadi SO₂ di tungku bersuhu 980–1.540 °C. Sisa H₂S lalu bereaksi dengan SO₂ di reaktor katalitik bersuhu 200–315 °C dan membentuk sulfur serta air. Sulfur cair dari kondensor ditampung di pit tertutup, lalu diangkut dalam keadaan cair atau dibentuk menjadi padatan.

Britannica mencatat proses Frasch, yang sejak 1894 melelehkan endapan sulfur bawah tanah dengan air sangat panas, menguasai pasar dunia sampai sekitar 1970. Sesudah itu, porsi sulfur dari minyak bumi, gas alam, dan sulfida logam terus membesar. Proses Frasch masih dipakai di Polandia dan Rusia. RSC kini menyebut produksi sulfur modern hampir seluruhnya berasal dari proses pemurnian gas alam, minyak, dan pasir minyak.

Untuk apa sulfur dipakai di industri?

Sebagian besar sulfur diolah menjadi asam sulfat. Menurut Britannica, sekitar enam per tujuh sulfur yang diproduksi diubah menjadi asam sulfat, dan penggunaan utama asam sulfat adalah pupuk fosfat serta amonium sulfat.

The Sulphur Institute mencatat bahwa jauh lebih dari separuh asam sulfat dunia dibuat dengan membakar sulfur elemental di lokasi pemakainya. Jadi banyak pabrik membuat asam sulfat sendiri dari belerang. Sebagian besar sisanya dipulihkan di smelter logam nonferro dan tambang pirit.

Di luar asam sulfat, sulfur dipakai untuk vulkanisasi karet dan sebagai bahan fungisida. Di Indonesia, penggunaannya dibahas per industri sebagai berikut.

Apa yang perlu ditanyakan saat membandingkan penawaran sulfur?

Bandingkan penawaran dengan dasar yang sama. Mintalah setiap penjual menuliskan butir berikut agar penawaran bisa dibandingkan baris demi baris.

  1. Bentuk fisik: bongkahan, prill, granul, pastille, serpih, bubuk, atau cair. Bentuk menentukan cara penanganan dan apakah sulfur perlu dilelehkan atau digiling sebelum dipakai.
  2. Kemurnian: kadar sulfur dalam persen, dan apakah ada laporan analisis yang mendukungnya.
  3. Parameter lain: misalnya kadar abu, keasaman, dan impuritas yang relevan bagi proses Anda. Di pabrik asam sulfat, bahan baku dengan pengotor hidrokarbon menghasilkan lebih banyak uap air dan kabut asam.
  4. Kemasan: misalnya jumbo bag atau curah.
  5. Volume dan jadwal: tonase per transaksi dan waktu pemuatan.
  6. Pelabuhan FOB: tempat barang diserahkan di atas kapal. Pada skema FOB, pembeli menunjuk kapal, mengatur asuransi, dan mengurus impor. Nakhoda perlu mengetahui bentuk sulfur yang dimuat.
  7. Dokumen K3: apakah SDS dari produsen atau pengirim tersedia untuk penyimpanan dan penanganan.

Apa yang perlu diketahui saat membeli sulfur secara FOB?

Pembeli dapat menanyakan butir di atas kepada setiap penjual sulfur FOB, termasuk PT Samudra Rayya Nusantara, trading company yang menjual sulfur bongkahan (lump) asal Oman dengan skema FOB di Pelabuhan Sohar. Kemurniannya 99,54%, kemasannya jumbo bag, dan volumenya 500–20.000 ton per transaksi.

Perusahaan ini tidak memegang stok di Indonesia dan tidak melakukan pengiriman. Barang berada di negara asal dan diserahkan di atas kapal yang ditunjuk pembeli. Sohar terletak di Teluk Oman, di luar Selat Hormuz. Spesifikasi lain disampaikan bersama penawaran, sedangkan sampel dan pertemuan tersedia bagi pembeli dengan rencana pembelian yang jelas.

Detail produk ada di halaman sulfur lump. Letak Sohar dibahas di artikel Pelabuhan Sohar dan Selat Hormuz.

Pertanyaan umum

Apakah belerang dan sulfur dua produk yang berbeda?

Tidak. Belerang adalah kata baku bahasa Indonesia untuk sulfur, dan keduanya menamai unsur yang sama. Ejaan bahasa Inggris sulphur juga merujuk ke barang yang sama. Penawaran dibedakan oleh bentuk fisik, kemurnian, dan parameter lain dalam spesifikasi, bukan oleh nama yang tertulis di dokumen.

Pada suhu berapa sulfur meleleh?

Sulfur meleleh pada kisaran 113–119 °C. Angka tepatnya bergantung pada bentuk kristal dan laju pemanasan. Britannica mencatat 112,8 °C untuk sulfur rombik dan sekitar 119 °C untuk sulfur monoklin, sedangkan Royal Society of Chemistry mencatat 115,21 °C. Setelah cair, kekentalan sulfur turun ke titik terendah sekitar 157 °C, lalu naik tajam sampai sekitar 187 °C.

Apakah sulfur berbahaya untuk disimpan dan ditangani?

Sulfur adalah padatan mudah terbakar. Lembar fakta Departemen Kesehatan New Jersey mencatat titik nyala 207 °C dan suhu swanyala 232 °C, dan sulfur yang terbakar menghasilkan gas beracun H₂S, SO₂, dan SO₃. Simpan di tempat kering dan berventilasi, jauh dari sumber api dan oksidator seperti klorat, nitrat, atau peroksida. Untuk prosedur yang berlaku, ikuti SDS dari produsen atau pengirim.

Apa arti UN 1350 dan UN 2448 untuk sulfur?

Keduanya nomor UN dalam aturan barang berbahaya. UN 1350 memakai nama pengapalan resmi SULPHUR, Kelas 4.1, kelompok kemasan III. UN 2448 dipakai untuk sulfur cair. Sulfur yang dibentuk diperlakukan berbeda. Hong Kong, misalnya, tidak memberlakukan aturan barang berbahayanya untuk sulfur yang dibentuk menjadi prill, granul, pelet, pastille, atau serpih. Status tiap muatan tetap mengikuti dokumen kargo dari pengirim dan pengangkut.

Sumber

  1. Badan Bahasa: KBBI VI Daring, lema belerang, dibaca
  2. Badan Bahasa: KBBI VI Daring, lema sulfur, dibaca
  3. IUPAC: Nomenclature of Inorganic Chemistry, IUPAC Recommendations 2005 (Red Book), dibaca
  4. Nature Chemistry: So long sulphur (editorial, Agustus 2009), dibaca
  5. Oxford Learner’s Dictionaries: sulphur, dibaca
  6. Cambridge Dictionary: sulphur, dibaca
  7. Royal Society of Chemistry: Periodic Table: Sulfur, dibaca
  8. USGS: Mineral Commodity Summaries 2026: Sulfur, dibaca
  9. BAM DGG-Info: UN 1350 Sulphur (IMDG Code), dibaca
  10. The Sulphur Institute: FAQ, dibaca
  11. Otoritas Maritim Faroe: Ringkasan amandemen IMSBC Code (2013), dibaca
  12. UK P&I Club: Carefully to Carry 2023, Bab 9: Sulphur Cargoes, dibaca
  13. Hong Kong Fire Services Department: Dangerous Goods: UN 1350 Sulphur, dibaca
  14. New Jersey Department of Health: Hazardous Substance Fact Sheet: Sulfur, dibaca
  15. US EPA: AP-42 §8.13 Sulfur Recovery, dibaca
  16. US EPA: AP-42 §8.10 Sulfuric Acid, dibaca
  17. Encyclopaedia Britannica: Sulfur, dibaca